Zat Pengawet dan Masa Kadaluarsa Obat

 Masa kadaluwarsa obat

Masa kadaluarsa obat tergantung dari susunan dan cara penyimpanannya. Obat yang mengandung cairan paling cepat terurai karena bakteri dan jamur dapat tumbuh baik di lingkungan lembab.

Oleh karena itu, terutama obat tetes mata, telinga dan hidung, larutan, sirop dan krem yang mengandung air sangat pendek jangka kadaluwarsanya.

Zat pengawet

Obat-obat dengan kadaluwarsa pendek biasanya dibubuhi zat pengawet, dengan tujuan menghalangi pertumbuhan kuman dan jamur.

Apabila wadah obat sudah dibuka, maka zat pengawet tidak dapat menghindarkan rusaknya obat secara keseluruhan, terlebih lagi bila wadah obat sering dibuka, misalnya pada obat tetes mata atau bersentuhan dengan bagian tubuh yang sakit, misalnya pipet tetes mata, hidung, atau telinga.

Oleh karena itu, penggunaan obat harus teliti, yaitu setelah digunakan, wadah obat segera ditutup kembali dengan baik. Pipet/sendok ukur segera dibersihkan dan dikeringkan.

Pada setiap kemasan harus dicantumkan bagaimana cara menyimpan obat dan tanggal kadaluwarsanya. Tanggal kadaluwarsa tidak berlaku bila kemasan asli sudah dibuka.

Obat tetes mata rata-rata hanya boleh digunakan 1 bulan karena kemungkinan besar telah terinfeksi selama penggunaannya.

Obat tetes/semprotan hidung dan krem dalam pot hanya dapat digunakan selama 3 bulan, sedangkan cairan/tetesan/suspense hanya boleh digunakan paling lama 6 bulan, walaupun dikemasannya tercantum tanggal keawetan yang lebih lama.

Krem dalam tube lebih awet, dapat digunakan sampai 6 bulan karena lebih sukar terinfeksi oleh kuman atau jamur dibandingkan dengan krem dalam pot.

Tablet, kapsul dan serbuk jauh lebih lama masa kadaluwarsanya karena (hampir) tidak mengandung air.

Di banyak Negara barat tanggal pembatalan penggunaan pada obat-obatan padat harus dicantumkan bila keawetannya lebih singkat dari 3 tahun, tetapi bila wadahnya sudh dibuka, masa keawetannya menjadi 1 tahun karena pengaruh dari cahaya (sinar UV) dan kelembaban.

BACA:  Penggunaan Sulfonamida Pada Ibu Hamil dan Menyusui

Antibiotika adalah obat-obat yang diberikan oleh dokter terhadap suatu infeksi, misalnya penisilin, amoksisilin, tetrasiklin, doksisiklin, sulfa dan kotrimoksazol.

Obat-obat ini diberikan oleh dokter sebagai satu kur, artinya seluruh tablet/kapsul atau sirop harus dihabiskan untuk menghindarkan penyakit akan kambuh lagi.

Biasanya jumlah yang diserahkan apotik adalah cukup untuk satu kur. Tetapi bila karena se-suatu sebab obat masih bersisa, maka sisa itu tidak boleh disimpan karena tidak cukup lagi untuk satu kur selanjutnya.

TOPIK MENARIK LAINNYA

Pil kuning bertuliskan cito, lidonest salep, obat kuat jenis teh, Merk dagang obat pengencer darah, dahak kayak cacing, kopi di campur paramek, bahaya infus bergelembung, Kasiat serbuk erba, biopradyn, Mentega untuk tanduk domba, bagaimana jika bentadin kalduasa diapakai, bokep anak kecil, kenapa kalpanax cair ditarik dari peredaran, cara beli pipet kaca di apotik, insto campur kopi