Dosis dan Efek Derivate Untuk Penyakit Virus

http://kesehatankeluarga.net1. Didanosin (dideoksiinosin, DDI, Videx) adalah derivate purin (1991) dengan khasiat lebih lemah dari pada AZT. Resorpsinya dikurangi oleh makanan dan asam lambung, maka perlu ditambahkan zat penyangga (buffer). Plasma t½ nya kurang lebih 1,5 jam. Ekskresi berlangsung melalui kemih (20%).

Efek samping terpenting berupa neuropati perifer dan pancreatitis, lebih jarang gangguan lambung usus (nausea, muntah, diare) demam, nyeri kepala dan konvulsi. Praktis tidak menekan sumsum tulang.

Dosis: oral 2 dd 125-200 mg a.c sebagai tablet kunyah yang mengandung zat penyangga untuk menaikkan pH lambung, karena DDI dalam lingkungan asam terurai dengan pesat.

Loading...

2. Zalcitabin  (dideoksisitidin, DDC, Hivid) adalah derivate sitidin (1992) dengan aktivitas sama. Obat ini kurang toksis bagi sumsum tulang dari pada AZT.

Penggunaannya dibatasi pada kasus dimana AZT tidak efektif atau penderita tidak tahan terhadap efek-efek sampingnya, juga dalam kombinasi dengan AZT.

Kombinasi dengan didanosin tidak dianjurkan karena toksisitasnya sama (neuropati perifer, efek samping yang paling sering terjadi).

Resorpsinya peroral baik, BA nya kurang lebih 88%, PP nya lebih kurang 4%, plasma t½ nya 2 jam, ekskresinya untuk 75% secara utuh melalui kemih. Penetrasinya ke CCS baik.

Dosis oral 3 dd 0,75 mg a.c.

3. Stavudine (D4T, Zerit)

 Adalah derivate pirimidin (1994) yang juga kurang mendepresi sumsum tulang dari pada AZT. Neurotoksisitasnya sama dengan DDI dan DDC.

Obat ini digunakan bila terdapat resistensi untuk AZT, yang lebih jarang terjadi. Resorpsinya baik dan dieksresikan untuk 40-60% utuh dengan kemih. Plasma t½ nya kurang lebih 1 jam.

Dosis: oral 2 dd 20-40 mg.

Lamivudin (3TC, Epivir, Combivir) adalah derivate  (1995) yang khusus digunakan dalam terapi cocktail (HAART) dengan AZT dan suatu protease blocker, misalnya nevirapin. Efek sampingnya lebih ringan.

Dosis: 2 dd 150 mg.

Combivir = zidovudin + lamivudin.

Loading...