HUBUNGAN EKONOMI TINGGI DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

By Najwa Mahesanti Categories: Kesehatan Masyarakat

kesehatankeluarga.netTARAF EKONOMI TINGGI, PENYAKIT TIDAK MENULAR

Sebaliknya, penyakit tidak menular terdapat banyak pada masyarakat dengan status ekonomi sosial tinggi, sehingga berstatus gizi tinggi, keadaan kesehatan lingkungan baik, penyakit menular rendah, angka kematian bayi rendah, usia harapan hidup tinggi,sehingga penyakit usia lanjut yang tidak menular menjadi tetap tinggi, demikianlah siklus penyakit tidak menular menjadi lengkap.

Melihat bahwa penyakit selalu didapat pada berbagai taraf perkembangan ekonomi masyarakat, yakni dari yang masih sedang berkembang sampai yang telah maju, timbul pertanyaan, apakah ada manfaat dari suatu perkembangan ekonomi dilihat dari segi kesehatan? Penyakit tampaknya selalu ada, hanya polanya yang berbeda. Dengan kata lain, dapat pula dipertanyakan apakah ada manfaat pemberantasan penyakit menular, apabila nantinya hanya akan diganti saja oleh yang tidak menular.

Untuk dapat memahami keuntungan yang diperolah dari segala usaha masyarakat yang ingin maju, perlu dikembalikan persoalannya pada populasi masyarakat yang diserang penyakit tersebut. Pada penyakit menular, anak-anaklah yang diserang, sedangkan pada penyakit tidak menular, kebanyakan adalah orang yang sudah tua. Dengan demikian dapat difahami, behwa menurunkan kematian diantara anak-anak merupakan suatu keuntungan, karena anak itu merupakan investasi masyarakat yang tentunya diharapkan dapat hidup sampai dewasa dan dapat mengembalikan investasi yang ditaruh padanya, atau bahkan dapat memberi keuntungan pada masyarakatnya. Bagi negara yang telah maju, dimana masyarakatnya dapat hidup lebih lama, maka tentunya pengembalian investasi dapat terlaksana. Selain itu, kesehatan merupakan pra-syarat utama bagi meningkatkan produktifitas masyarakat. Bahwa pada akhirnya populasi yang tua ini menderita penyakit yang bersifat tidak menular, tampaknya wajar saja. Namun hal ini masih pula dapat dipertanyakan, apakah perubahan pada perilaku (lingkungan sosial) dapat mencegah terjadinya ataupun mengurangi insidensinya. Sebagai contoh, menghentikan merokok dapat mengurangi insidensinya carcinoma paru-paru di antara populasi tua; olah raga dapat memelihara kebugaran jasmani manula.